Jayapura, 01 Mei 2026 — Presiden Sementara United Liberation Movement for West
Papua (ULMWP), Benny Wenda, mengumumkan perombakan kabinet Pemerintah Sementara
sebagai bagian dari peringatan 1 Mei, yang oleh kelompok tersebut dipandang
sebagai momen bersejarah dalam perjalanan politik Papua Barat.
Dalam
pernyataan resminya, Wenda menyebut 1 Mei sebagai hari refleksi sekaligus
perlawanan. Ia menyoroti peristiwa tahun 1963 sebagai titik awal integrasi
Papua ke Indonesia, yang menurutnya masih menjadi sumber konflik hingga kini.
Ia juga menyinggung proses Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969 yang terus
menjadi perdebatan dalam narasi politik Papua.
Presiden Wenda
menegaskan bahwa pengumuman perombakan kabinet ini merupakan langkah untuk
memperkuat struktur pemerintahan sementara ULMWP. Menurutnya, upaya tersebut
bertujuan meningkatkan kapasitas organisasi di tengah situasi yang disebutnya
penuh tekanan.
“ULMWP terus
membangun struktur pemerintahan, mulai dari konstitusi hingga jaringan
perwakilan di berbagai wilayah Papua Barat,” ujar Wenda dalam pernyataan
tertulisnya.
Selain itu, ia
juga menyoroti kondisi kemanusiaan di sejumlah wilayah konflik, termasuk warga
sipil yang mengungsi akibat operasi keamanan. Ia mengklaim bahwa situasi
tersebut menunjukkan perlunya perhatian internasional terhadap Papua Barat.
Dalam konteks
diplomasi, Wenda menyatakan bahwa ULMWP terus mendorong dukungan internasional,
termasuk seruan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk melakukan
kunjungan terkait hak asasi manusia. Ia juga menegaskan bahwa solusi paling
demokratis adalah Referendum menjadi salah satu jalan yang diharapkan untuk
mencapai penyelesaian jangka panjang.
Perombakan
kabinet yang diumumkan mencakup sejumlah posisi strategis, seperti Menteri Luar
Negeri yang dijabat oleh Jacob Rumbiak, Menteri Dalam Negeri oleh Dr. Frans F.
Kapisa, serta 17 kementerian lain yang menangani bidang politik, sosial,
ekonomi, hingga pertahanan.
Di sisi lain,
struktur yang disebut sebagai Tentara Papua Barat juga diumumkan kembali,
dengan Goliat Tabuni disebut sebagai Panglima Tertinggi.
Menutup
pernyataannya, Wenda mengajak masyarakat Papua Barat untuk menjaga persatuan
dan tetap mendukung agenda politik ULMWP ke depan.
Pernyataan ini muncul di tengah dinamika politik dan keamanan yang masih berlangsung di Papua, yang terus menjadi perhatian nasional maupun internasional. lebih jelas dapat ikuti alamat berikut ini https://www.facebook.com/share/p/1DptrPaW5J/
penulis:Admint
